Senin, 27 Agustus 2012

CERPEN SASKY "MENGAPA KAMU BEGITU?"


    Tema: kejujuran
Mengapa kamu begitu?
           Jam dua belas. Terik matahari menyinari atap warna coklat rumah Milka. Di kamar, Milka sedang menunjukkan aksesoris barunya kepada Cici.
”Eh...Cici, lihat! Ini aksesoris baruku.” kata Milka.
”Waw...bagus sekali! kamu membeli ini dimana?” tanya Cici.
”Aku tidak tau, aku hanya dikado oleh mamaku, mungkin mamaku membelinya di toko Stroberi.” jawab Milka
Cici hanya tersenyum manis dan menggerutu dalam hati. Ia iri karena Milka mempunyai aksoseris yang baru dan bagus. Saat mereka tengah bermain, Cici meng-sms papanya agar segera menjemputnya dari rumah Milka.
”Eh..Milka, sebentar lagi aku pulang.” kata Cici.
”Lho,kenapa pulang Ci?” tanya Milka.
”Ya...tidak apa-apa, lagipula aku sedikit lelah. Tadi kan sehabis pulang sekolah aku langsung bermain ke rumahmu” jawab Cici
Sebenarnya Cici hanya beralasan kepada Milka karena dari tadi Milka memamerkan barang-barang yang dia punya.
              Tidak lama kemudian Cici dijemput oleh papanya, lalu saat dalam perjalanan Cici merayu papanya untuk membelikannya aksesoris seperti milik Milka.
”Papa, teman Cici ada yang punya aksesoris baru dan aksesoris itu bagus sekali. Papa mau nggak beliin Cici aksesoris itu?” rayu Cici.
”Memang nya temanmu itu membeli aksesoris itu dimana dan berapa  harganya?” tanya Papa Cici
“Dia belinya di toko stroberi, tapi aku tidak tau harganya berapa.” kata Cici.
Papa Cici mau membelikan aksesoris itu asalkan harganya tidak mahal. Setelah dilihat di tokonya, ternyata harganya mahal dan Papa Cici tidak mengijinkan Cici untuk membeli aksesoris itu. Cici tetap berusaha merayu papanya supaya diijinkan untuk membeli barang yang diinginkannya. Tetapi  papanya tetap tidak mengijinkan.

Akhirnya Cici menurut apa kata papanya. Kebetulan besok adalah hari Sabtu dan Cici meminta papanya untuk mengantarkannya ke rumah Milka.
“Papa! Cici boleh nggak  main kerumah Milka lagi?” tanya Cici
 “Iya sayang, boleh kok” jawab Papa.
Maksud Cici ingin kerumah Milka adalah Cici ingin mengambil aksesoris milik Milka. Cici melakukan seperti itu karena Cici iri kepada Milka. Keesokan harinya Cici masuk sekolah, Cici diantar papanya ke sekolah dan saat Cici masuk kelas Cici melihat Milka sedang memamerkan aksesorisnya kepada teman-temannya. Perasaan Cici yang iri itu semakin menjadi-jadi dan Cici semakin benci kepada Milka. Saat tengah-tengah mengerjakan tugas pelajaran tiba-tiba bel istirahat berbunyi.
kring...kring...kring
Cici segera keluar kelas untuk menuju ke kantin bersama sahabatnya yang bernama Lili.
 Saat Cici membeli makanan Cici berbicara kepada Lili.
”Eh...! Lili kamu suka nggak sama Milka?” tanya Cici.
”Hmm...! gimana ya...? menurut ku sih biasa aja.” kata Lili.
“Hah..gimana sih, Li? Itu kok kamu anggap biasa sih? kamu nggak sadar ya, tadi pagi Milka itu pamer aksesorisnya itu lho...! huhh...ihhh... aku males banget sama Milka, sombong banget, punya aksesoris baru aja pamer, punya barang baru pamer, sedikit-sedikit pamer.” kata Cici dengan nada tinggi.
”Hmm...iya juga sih, kamu benar, Ci.” kata Lili.
 Cici dan Lili tertawa-tawa terbahak-bahak. Tiba-tiba terdengar suara dering bel istirahat selesai.
kring...kring...kring...
Cici dan Lili segera beranjak dari kantin dan masuk ke kelas. Saat mereka ke kelas hati mereka yang tadi nya penuh dengan canda dan tawa sekarang berubah kembali menjadi hati yang licik dan jahat karena mereka melihat Milka yang tak henti-hentinya memamerkan aksesoris barunya kepada teman-temannya.
“Eh...eh, Cici, lihatlah itu! Lagi-lagi Milka memamerkan aksesorisnya lagi, huhh.....! kapan sih dia bisa berhenti memamerkan aksesorisnya itu” gerutu Lili.
”Iya Li, kamu benar. Hmm...hmm...hmm...! Eh Li, aku punya rencana.” Kata Cici dengan sedikit berbisik.
Cici membisikkan rencananya itu ke telinga Lili.
“Gimana rencana ku Li, bagus nggak?, setuju nggak?” tanya Cici.
“Hmm...boleh juga, menurutku itu adalah rencana yang sangat sempurna, rencanamu bagus, Ci.” kata Lili.
Cici sudah merencanakan sesuatu dengan Lili dan untuk menjalankan rencananya itu, siang ini Cici akan pergi ke rumah Milka.
Tidak terasa waktu begitu cepat, jarum jam sudah menunjukkan angka dua belas. Bel pulang sekolah pun telah berbunyi. Cici dan Lili segera menuju ke luar kelas.
”Cici jangan lupa ya...! jalankan tugasmu dengan baik.” kata Lili mengingatkan Cici.
”Oke deh...!” jawab Cici.
Saat Cici masih berjalan  keluar kelas, Ia melihat Milka sedang berada di taman sekolah. Ia segera menghampiri Milka
“Eh Milka, boleh nggak nanti aku ke rumah mu?” tanya Cici pada Milka.
”Hmm..! boleh saja, terserah kamu aja.” Jawab Milka.
Tak lama kemudian Cici dijemput oleh papanya.
”Pa, papa kan sudah bilang mau nganterin aku ke rumah Milka.” kata Cici.
“Iya Ci, Papa antar kamu ke rumah Milka.” kata Papa Cici.
Cici hanya berpura-pura senang bermain ke rumah Milka, padahal ia senang karena ia membayangkan akan berhasil melakukan rencananya.
 “Assalamualaikum, Milka..Milka...!” kata Cici sambil mengetuk pintu rumah Milka.
Milka yang sebelumnya sedang berada di kamarnya segera beranjak untuk membuka pintu rumahnya.
“Waalaikumsalam, eh..Cici ayo masuk!” kata Milka
Saat Cici sudah masuk ke ruang tamu rumah Milka, Cici langsung diajak oleh Milka untuk masuk ke dalam kamarnya
“Eh, Milka boleh lihat aksesorismu nggak?” tanya Cici
“Iya, boleh kok.” kata Milka sambil memberikan kotak aksesoris miliknya.
Merekapun bermain bersama cukup lama.
”Aduh kapan sih Milka keluar dari kamar ini?” gerutu Cici dalam hati.
             Beberapa menit berlalu dan keinginan Cici pun terkabul. Milka pergi ke kamar mandi.
“Eh Cici, sebentar ya...! Aku ke kamar mandi dulu.” kata Milka
“Eh..eh...i...i...iya Milka” jawab Cici.
Saat Milka masih di kamar mandi Cici cepat-cepat menjalankan rencananya dan segera mengambil aksesoris milik Milka. Ia segera memasukkan aksesoris tersebut ke dalam tas nya dan ia pun segera pulang dari rumah Milka.
“Eh, Milka aku pulang dulu ya...!” teriak Cici
Cici berbicara tergesa-gesa kepada Milka karena Cici takut ketahuan oleh Milka.
“Oh...! ya sudah kalau begitu, terima kasih ya kamu telah berkunjung ke rumah ku”
Milka tidak sempat bicara agak lama dengan Cici karena Cici sudah terburu-buru pulang. Cici meninggalkan rumah Milka dengan wajah licik yang terlihat jelas dari raut wajahnya.
Jam sudah menunjukkan pukul tujuh kurang lima menit. Milka yang terlihat gelisah segera masuk ke dalam ruangan kelas dengan tubuhnya yang lemas.
“Kamu kenapa, Milka?” tanya Lili pada Milka.
“Aksesorisku hilang... Aku nggak tau aksesorisku dimana.” kata Milka dengan nada bersedih.
“Oh..” jawab Lili sambil meninggalkan Milka begitu saja.
Bel masuk sekolah pun berdering dan pelajaran pun dimulai.  Milka mengikuti pelajaran dengan gelisah dan tidak semangat. Ia masih memikirkan aksesorisnya yang hilang.
Bel istirahat berbunyi.
“Eh kayaknya Cici deh yang ngambil aksesorisku, karena aksesorisku hilang kan waktu Cici pulang dari rumahku. Lagipula Cici meninggalkan rumahku dengan tergesa-gesa.” kata Milka pada teman-temannya.
Di kantin, Cici dan Lili tertawa puas karena mereka telah berhasil mengambil aksesoris Milka.
“Hahaha rasain Milka, biar kamu kapok. Salah sendiri sukanya pamer-pamerin barang baru.” kata Cici pada Lili sambil tertawa terbahak-bahak.

            Milka dan teman-temannya kembali ke kelas karena bel selesai istirahat akan segera berbunyi. Saat mereka akan memasuki pintu  kelas, Milka mendengar obrolan Cici dan Lili yang sedang membicarakan dirinya. Ternyata Milka tidak sengaja mendengar sebuah ucapan dari mulut Lili yang sulit ia dipercaya. Ia baru mengetahui kalau Cici lah yang telah mengambil aksesoris miliknya.
Setelah bel pulang sekolah, Milka dan teman-temannya menuju taman sekolah untuk bermain.
“Eh eh eh, kalian dengar nggak tadi waktu kita mau masuk kelas, Cici sama Lili membicarakan aku. Ternyata sebenarnya Cici yang mengambil aksesorisku.” kata Milka pada teman-temannya
“Apa?” teriak teman-teman Milka bersamaan seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan Milka.
“Kamu tau dari mana, Milka? Mereka kan anak baik.” tanya Ifa.
“Iya aku tadi dengar sendiri Lili bilang seperti itu ke Cici.” jawab Milka.
Cici dan Lili yang mendengar perkataan Milka dengan teman-temannya langsung saja kaget bukan main. Mereka bingung dari mana Milka tau kalau Cici yang mengambil aksesoris Milka. Cici dan Lili mulai panik. Lalu terlihat teman-teman Milka datang menghampiri Cici dan Lili.
“Benarkah kamu yang sudah mengambil aksesoris Milka?” tanya Ifa pada Cici.
“Hah? Bu..bu..bukan aku yang ngambil. Jangan menuduh dong! Kamu kan nggak punya bukti.” sentak Cici.
Milka dan teman-temannya segera meninggalkan Cici dan Lili dengan keraguan dan kecurigaan. Cici yang sudah terlanjur panik akhirnya mengelus dada.
“Fyuh! Untung saja gak ketauan sama mereka. Kalau ketauan bagaimana nasibku nanti.” kata Cici pada Lili.
Milka pun pulang. Sesampainya di rumah, ia segera memberitau papanya kalau ternyata Cici yang mengambil aksesorisnya. Papanya kaget bukan main. Ya, bagaimana tidak, Cici adalah anak yang sopan dan baik. Bisa-bisanya ia mencuri barang milik anaknya.
“Oke besok papa akan lapor kepada wali kelasmu.” kata Papa Milka

            Keesokan harinya, Milka pergi ke sekolah bersama papanya.
“Selamat pagi, bu.” sapa Papa Milka.
“Pagi, Pak. Ada perlu apa ya?” tanya Bu Keni.
“Tolong ajarkan murid anda untuk tidak mencuri barang milik anak saya!” kata Papa Milka.
“Maaf, Pak. Siapakah yang anda maksud?” tanya Bu Keni
“Cici, bu. Dia telah mencuri aksesoris milik anak saya.” kata Papa Milka.
Milka menjelaskan kejadian yang sudah dialaminya itu.
Akhirnya, Bu Keni pun segera menuju ke kelas untuk menyelesaikan masalah tersebut.
“Anak-anak, Ibu ingin tanya sesuatu. Apakah ada yang tau siapa yang sudah mencuri aksesoris milik Milka?” tanya Bu Keni
Hampir seisi kelas langsung menoleh ke arah Cici. Cici hanya diam dan sedikit menunduk.
“Cici, apakah kamu yang mengambil aksesoris Milka?” tanya Bu Keni lagi.
Cici semakin panik dan keringat dinginnya pun mulai bercucuran.
“Ti..ti..tidak, bu. Bukan saya yang mengambil aksesoris Milka.” jawab Milka dengan panik.
“Kamu jangan bohong, Cici.” Kata Milka.
“Aku nggak bohong, Milka. Memang mana buktinya?” tanya Cici dengan mata yang sedikit berkaca-kaca.
“Ada kok buktinya. Nih, menemukan ini di dalam tasmu.” jawab Milka sambil mengangkat sebuah kotak aksesoris merahnya.
Cici hanya diam. Dia tidak tau apa yang harus ia katakan lagi karena buktinya sudah jelas kalau memang ia yang mencuri aksesoris Milka.
“Oke aku mengaku. Sebenarnya aku iri padamu. Maafkan aku, Milka.” kata Cici sambil meneteskan air mata.
Bu Keni pun merangkul Cici dan Milka.
“Sudah sekarang kalian baikan ya.. Teman bisa saja jadi musuh kalau kamu bersikap begitu, Cici. Kejujuran adalah segala-galanya. Percuma saja kamu menjalani sebuah pertemanan kalau tanpa didasari sebuah kejujuran.” kata Bu Keni.
Akhirnya Cici dan Milka pun berpelukan dan meneteskan air mata bersama. Cici pun sadar kalau yang telah dilakukannya itu salah dan Milka membuat kejadian itu sebagai pelajaran.
BIODATA

Nama                                    :  Yavica Sasky
Alamat                                 :  Jl. Dukuh Kupang Timur XV No. 69-71, Surabaya
Tempat, tanggal, lahir          :  Surabaya, 13 April 2002
Sekolah                              : SDI Darut Taqwa Surabaya

JENIS-JENIS KARANGAN


JENIS-JENIS KARANGAN

A. Deskripsi 

Karangan ini berisi gambaran mengenai suatu hal/keadaan sehingga pembaca seolah-olah melihat, mendengar, atau merasakan hal tersebut.
Karangan deskripsi memiliki ciri-ciri seperti:
  • Menggambarkan atau melukiskan sesuatu
  • Penggambaran tersebut dilakukan sejelas-jelasnya dengan melibatkan kesan indera
  • Membuat pembaca atau pendengar merasakan sendiri atau mengalami sendiri.

Pola pengembangan paragraf deskripsi:

  • Paragraf Deskripsi Spasial
paragraf ini menggambarkan objek kusus ruangan, benda atau tempat
  • Paragraf Deskripsi Subjektif
paragraf ini menggambarkan objek seperti tafsiran atau kesan perasaan penulis.
  • Paragraf Deskripsi Objektif
paragraf ini menggambarkan objek dengan apa adanya atau sebenarnya.

Contoh


Siang itu aku sedang duduk santai di sofa empuk di dalam apotik milikku yang baru saja dibuka. Apotik ini adalah impianku sejak aku kuliah di Farmasi dulu. Sekarang aku memandang puas pada usahaku selama ini. Aku bisa mendirikan apotik di kota kelahiranku. Apotik ini cukup luas, beberapa rak besar tempat obat-obatan berjejer rapi dengan kemasan-kemasan obat warna-warni yang dikelompokkan menurut farmakologinya dan disusun alfabetis. Pandangan saya tertuju pada rak buku di pojok ruangan yang berisi buku-buku tebal. Ku ambil satu buku yang disampulnya tertulis Informasi Spesialis Obat atau yang biasa disebut kalangan farmasi dengan buku ISO. Setelah ku pandangi aku tersenyum dan mengembalikannya ke tempat semula. buku ini adalah buku pertama yang kubeli saat aku kuliah dulu. Aku memandang lagi secara keseluruhan apotik ini, sebuah televisi 14 inci dan sebuah computer di meja kasir. Hembusan angin dari AC cukup membuat udara terasa sejuk di bulan Mei yang panas ini.



  B.Eksposisi

Paragraf eksposisi adalah paragraf yang bertujuan untuk memaparkan, menjelaskan, menyampaikan informasi, mengajarkan, dan menerangkan sesuatu tanpa disertai ajakan atau desakan agar pembaca menerima atau mengikutinya.


Ciri-ciri paragraf eksposisi:

Paragraf eksposisi adalah paragraf yang bertujuan untuk memaparkan, menjelaskan, menyampaikan informasi, mengajarkan, dan menerangkan sesuatu tanpa disertai ajakan atau desakan agar pembaca menerima atau mengikutinya.

Ciri-ciri paragraf eksposisi:
a. Memaparkan definisi (pengertian).
b. Memaparkan langkah-langkah, metode, atau cara melaksanakan suatu kegiatan.

Contoh:
Paragraph 1 (a)

Ozone therapy adalah pengobatan suatu penyakit dengan cara memasukkan oksigen murni dan ozon berenergi tinggi ke dalam tubuh melalui darah. Ozone therapy merupakan terapi yang sangat bermanfaat bagi kesehatan, baik untuk menyembuhkan penyakit yang kita derita maupun sebagai pencegah penyakit.


Paragraph 2 (b)

Pernahkan Anda menghadapi situasi tertentu dengan perasaan takut? Bagaimana cara mengatasinya? Di bawah ini ada lima jurus untuk mengatasi rasa takut tersebut. Pertama, persipakan diri Anda sebaik-baiknya bila menghadapi situasi atau suasana tertentu; kedua, pelajari sebaik-baiknya bila menghadapi situasi tersebut; ketiga, pupuk dan binalah rasa percaya diri; keempat, setelah timbul rasa percaya diri, pertebal keyakinan Anda; kelima, untuk menambah rasa percaya diri, kita harus menambah kecakapan atau keahlian melaluin latihan atau belajar sungguh-sungguh.
Sumber : www.telukbone.org                                                                                      



  C. Argumentasi

Karangan argumentasi adalah jenis paragraf yang mengungkapkan ide, gagasan, atau pendapat penulis dengan disertai bukti dan fakta (benar-benar terjadi).

Tujuannya adalah agar pembaca yakin bahwa ide, gagasan, atau pendapat tersebut adalah benar dan terbukti.

Ciri-ciri karangan argumentasi:
  • Menjelaskan pendapat agar pembaca yakin
  • Memerlukan fakta untuk pembuktian berupa gambar/grafik, dan lain-lain.
  • Menggali sumber ide dari pengamatan, pengalaman, dan penelitian.
  • Penutup berisi kesimpulan.

Contoh:

Mempertahankan kesuburan tanah merupakan syarat mutlak bagi tiap-tiap usaha pertanian. Selama tanaman dalam proses menghasilkan, kesuburan tanah ini akan berkurang. Padahal kesuburan tanah wajib diperbaiki kembali dengan pemupukan dan penggunaan tanah itu sebaik-baiknya. Teladan terbaik tentang cara menggunakan tanah dan menjaga kesuburannya dapat kita peroleh pada hutan yang belum digarap petani.
Sumber : www.publicopinion.com


D. Narasi

Menurut Keraf (2000:136), ciri karangan narasi yaitu:
  • Menonjolkan unsur perbuatan atau tindakan.
  • Dirangkai dalam urutan waktu.
  • Berusaha menjawab pertanyaan, apa yang terjadi?
  • Ada konfliks.

Narasi dibangun oleh sebuah alur cerita. Alur ini tidak akan menarik jika tidak ada konfiks. Selain alur cerita, konfiks dan susunan kronologis, ciri-ciri narasi lebih lengkap lagi diungkapkan oleh Atar Semi (2003: 31) sebagai berikut:
1. Berupa cerita tentang peristiwa atau pengaalaman penulis.
2. Kejadian atau peristiwa yang disampaikan berupa peristiwa yang benar-benar terjadi, dapat berupa semata-mata imajinasi atau gabungan keduanya.
3. Berdasarkan konfiks, karena tanpa konfiks biasanya narasi tidak menarik.
4. Memiliki nilai estetika.
5. Menekankan susunan secara kronologis.




Ciri yang dikemukakan Keraf memiliki ciri berisi suatu cerita, menekankan susunan kronologis atau dari waktu ke waktu dan memiliki konfiks. Perbedaannya, Keraf lebih memilih ciri yang menonjolkan pelaku.

Jenis-jenis Karangan Narasi

a. Narasi Ekspositorik (Narasi Teknis)

Narasi Ekspositorik adalah narasi yang memiliki sasaran penyampaian informasi secara tepat tentang suatu peristiwa dengan tujuan memperluas pengetahuan orang tentang kisah seseorang. Dalam narasi ekspositorik, penulis menceritakan suatu peristiwa berdasarkan data yang sebenarnya. Pelaku yang ditonjolkan biasanya satu orang. Pelaku diceritakan mulai dari kecil sampai saat ini sampai terakhir dalam kehidupannya. Karangan narasi ini diwarnai oleh eksposisi, maka ketentuan eksposisi juga berlaku pada penulisan narasi ekspositorik. Ketentuan ini berkaitan dengan penggunaan bahasa yang logis, berdasarkan fakta yang ada, tidak memasukan unsur sugestif atau bersifat objektif.

b. Narasi Sugestif

Narasi sugestif adalah narasi yang berusaha untuk memberikan suatu maksud tertentu, menyampaikan suatu amanat terselubung kepada para pembaca atau pendengar sehingga tampak seolah-olah melihat.

Contoh:

a. Narasi ekspositoris

Siang itu, Sabtu pekan lalu, Ramin bermain bagus. Mula-mula ia menyodorkan sebuah kontramelodi yang hebat, lalu bergantian dengan klarinet, meniupkan garis melodi utamanya. Ramin dan tujuh kawannya berbaris seperti serdadu masuk ke tangsi, mengiringi Ahmad, mempelai pria yang akan menyunting Mulyati, gadis yang rumahnya di Perumahan Kampung Meruyung. Mereka membawakan lagu “Mars Jalan” yang dirasa tepat untuk mengantar Ahma, sang pengantin….

Sumber : Tempo, 20 Februari 2005 dari alamat website www.scribd.com


b. Narasi sugestif

Patih Pranggulang menghunus pedangnya. Dengan cepat ia mengayunkan pedang itu ke tubuh Tunjungsekar. Tapi aneh, sebelum mengenai tubuh Tunjungsekar. Tapi aneh, sebelum mengenai tubuh Tunjungsekar, pedang itu jatuh ke tanah. Patih Pranggulang memungut pedang itu dan membacokkan lagi ke tubuh Tunjungsekar. Tiga kali Patih Pranggulang melakukan hal itu. Akan tetapi semuanya gagal.
Sumber : Terampil Menulis Paragraf 2004: 66 dari alamat website www.scribd.com


Contoh lain :

Kemampuan apresiasi musik pada seorang anak dapat dibentuk melalui tiga cara. Pertama, secara alamiah seseorang dibiasakan mendengarkan karya musik. Kebiasaan itu dimulai sejak anak masih berupa janin dalam rahim ibunya. Persentuhan emosi sang ibu dengan berbagai irama yang didengarkan akan ikut dirasakan oleh janin. Besar kemungkinan akan terjadi respons motorik janin yang dirasakan oleh sang ibu. Kedua, sejak anak dilahirkan ia dibiasakan dengan berbagai irama musik yang mengiringnya pada saat menjelang tidur atau bermain. Alat pendengar anak menjadi peka menangkap berbagai irama dari instrumen musik yang didengarnya. Lambat-laun, seiring dengan pertumbuhan fisik dan kognisinya, musik akan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan anak. Ketiga, apresiasi musik dikembangkan melalui pendidikan formal. Untuk itu, pendidikan musik diarahkan kepada pengenalan, pemahaman, penghayatan, dan sikap kritis serta kreatif terhadap karya musik.




E. Persuasi

Paragraf persuasif adalah suatu bentuk karangan yang bertujuan membujuk pembaca agar mau berbuat sesuatu sesuai dengan keinginan penulisnya. Agar tujuannya dapat tercapai, penulis harus mampu mengemukakan pembuktian dengan data dan fakta.


Contoh:

Sistem pendidikan di Indonesia yang dikembangkan sekarang ini masih belum memenuhi harapan. Hal ini dapat terlihat dari keterampilan membaca siswa kelas IV SD di Indonesia yang berada pada peringkat terendah di Asia Timur setelah Philipina, Thailand, Singapura, dan Hongkong. Selain itu, berdasarkan penelitian, rata-rata nilai tes siswa SD kelas VI untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika, dan IPA dari tahun ke tahun semakin menurun. Anak-anak di Indonesia hanya dapat menguasai 30% materi bacaan. Kenyataan ini disajikan bukan untuk mencari kesalahan penentu kebijakan, pelaksana pendidikan, dan keadaan yang sedang melanda bangsa, tapi semata-mata agar kita menyadari sistem pendidikan kita mengalami krisis. Oleh karena itu, semua pihak perlu menyelamatkan generasi mendatang. Hal tersebut dapat dilakukan dengan memperbaiki sistem pendidikan nasional.
Sumber : Kompas,14 Mei 2009 dengan perubahan seperlunya




Contoh 2: 

Kita semua mengetahui bahawa kondisi lingkungan Kota Jakarta sudah sangat memprihatinkan. Banyak sekali sungai yang kotor akibat pembuangan limbah yang tidak teratur serta pencemaran udara akibat asap kendaraan bermotor yang semakin banyak. Ini semua dapat menyebabkan gangguan bagi makhluk hidup di Kota Jakarta, temasuk manusia. Pernapasan kita dapat terganggu dan keindahan Kota Jakarta tercemar. Oleh karena itu, alangkah baiknya jika kita sebagai penduduk Kota Jakarta berusaha untuk melestarikan lingkungan kota ini dengan berbagai macam usaha. Di antaranya adalah dengan penghijauan, pembuatan taman kota, dan pelarangan membuang sampah di sembarang tempat. Ini semua dapat mengendalikan keindahan Kota Jakarta.

Rabu, 29 Februari 2012

Raihana, 0 - 4 tahun


Alhamdulillah setelah tiga tahun menunggu, Allah menganugerahi kami seorang putri. 
Malaikat kecil kami lahir 1 Mei 2007 pukul 17.45 di RS Wiyung Sejahtera Surabaya.
kami beri nama Raihana Zakiah Al Jauharah, artinya perempuan yang baik dan suci bagai permata

Hai...teman-teman, namaku Raihana panggil saja Hana. usiaku 1,5 bulan, aku bisa tertawa. lucu kan?





usiaku 4 bulan aku udah tengkurap loh

Minggu, 26 Februari 2012

Untuk Tersayang

Untukmu

Kita selalu bersama
menemaniku dari tahun ke tahun
mendampingiku kala ku sedih

kau.......
ku pernah sedih dan kecewa
ku pernah ingin lari
pergi melupakanmu

ku tak ingin
sekarang atau besok
jangan membuatku kecewa
karena ku ingin dicintai